Kuliah Pakar Prodi Pendidikan IPA FKIP UMRI Hadirkan Pakar Malaysia dan Indonesia
PEKANBARU(17/09/25) Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) sukses menggelar Kuliah Pakar. Kegiatan bergengsi ini menghadirkan dua narasumber kaliber internasional dari Malaysia dan Indonesia yang membahas isu-isu strategis dalam pengembangan pendidikan sains masa kini.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UMRI, Assoc.
Prof. Wirdati Irma, S.Pd., M.Si., didampingi oleh Dekan FKIP, Assoc.
Prof. Pratama Benny Herlandy, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Program Studi
Pendidikan IPA, DR.Hadi Purwanto, M.Pd.. Sambutan hangat dari para pimpinan
universitas mencerminkan dukungan penuh institusi terhadap pengembangan
akademik mahasiswa melalui forum ilmiah bertaraf internasional ini.
Sesi pertama menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Zanaton H. Iksan,
Chairman of Malaysian Association of Lesson Study (MALS) / Universiti
Kebangsaan Malaysia, yang membawakan materi bertajuk "Implementation
of Lesson Study in Science Education." Beliau memaparkan bagaimana
pendekatan Lesson Study—yang berakar dari tradisi pendidikan Jepang—telah
bertransformasi menjadi model kolaborasi profesional guru sains yang terbukti
efektif di Malaysia dan berbagai negara Asia. Lesson Study menempatkan guru
sebagai peneliti di kelasnya sendiri: mereka merencanakan pembelajaran bersama,
saling mengobservasi, lalu merefleksikannya untuk perbaikan berkelanjutan.
Assoc. Prof. Dr. Zanaton menegaskan bahwa implementasi Lesson Study secara
konsisten terbukti meningkatkan kualitas pembelajaran sains sekaligus membangun
ekosistem kolaborasi di antara pendidik.
Sesi kedua tidak kalah menarik. Prof. Dr. Zul Irfan Aziz, M.Si., Chairman of Indonesian Association of Science Teacher (IAST), Riau Region / Universitas Riau, tampil membawakan topik "Ethnopedagogy in the Implementation of Deep Learning." Melalui pemaparan yang kaya dengan contoh-contoh nyata dari konteks lokal Riau, Prof. Zul Irfan menjelaskan bagaimana Ethnopedagogy—pendekatan yang mengintegrasikan nilai budaya lokal ke dalam proses pedagogis—dapat menjadi fondasi kuat bagi penerapan deep learning dalam pembelajaran IPA. Ia menekankan bahwa siswa akan belajar lebih mendalam dan bermakna ketika konten sains dikaitkan dengan pengalaman budaya dan kearifan lokal yang mereka kenal sejak kecil. Sesi ini mendapat respons sangat antusias dari peserta, dengan diskusi yang berlangsung dinamis hingga akhir acara. Kuliah Pakar ini merupakan wujud nyata dari komitmen Program Studi Pendidikan IPA FKIP UMRI dalam menyiapkan calon guru sains yang berwawasan global sekaligus beridentitas lokal. Dengan menghadirkan narasumber lintas negara, mahasiswa mendapatkan perspektif komparatif yang sangat berharga mengenai inovasi pendidikan sains di tingkat internasional. Kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring akademik UMRI dengan institusi-institusi terkemuka di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia.
Salah
satu peserta, Khairun Nisa Defi, Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA FKIP UMRI,
mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan tersebut.
"Saya tidak menyangka bahwa dua
materi ini begitu saling melengkapi. Lesson Study mengajarkan kita bagaimana
menjadi guru yang terus belajar bersama rekan sejawat, sementara Ethnopedagogy mengingatkan
kita bahwa identitas budaya siswa bukan hambatan, melainkan kekuatan besar
dalam proses belajar. Kuliah Pakar ini benar-benar mengubah cara pandang saya
tentang menjadi guru IPA."
Ketua Program Studi Pendidikan IPA FKIP UMRI, Dr.Hadi Purwanto,
M.Pd., menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh narasumber, pimpinan
universitas, serta mahasiswa yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan
ini. Ia menegaskan bahwa forum ilmiah seperti Kuliah Pakar akan terus
dihadirkan secara rutin sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu akademik dan
perluasan wawasan keilmuan mahasiswa di era pendidikan global.
Dengan suksesnya penyelenggaraan Kuliah Pakar ini, Program Studi
Pendidikan IPA FKIP UMRI semakin memantapkan diri sebagai pusat unggulan pendidikan
sains yang tidak hanya berorientasi pada standar global, tetapi juga senantiasa
berakar pada nilai-nilai lokal dan kebudayaan Nusantara.


0 Comments