Mahasiswa Umri Rancang Bel Otomatis Berbasis Arduino di Pabrik Mesin Kelapa PRESCO

 Mahasiswa Umri Rancang Bel Otomatis Berbasis Arduino di Pabrik Mesin Kelapa PRESCO

Pekanbaru 19 Maret 2022– Mahasiswa Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Ilhamdianto, menuntaskan program magang industri di PT Baja Diva Manufaktur, Pekanbaru. Dalam laporannya, ia merancang bel otomatis berbasis mikrokontroler Arduino Uno dan modul jam waktu nyata (real time clock/RTC) DS3231.

Magang berlangsung pada semester genap 2022. Kegiatan tercatat dimulai pada 19 Maret 2022, dengan lokasi di kawasan industri perusahaan di Jalan Lintas Timur KM 17, Kulim.

PT Baja Diva Manufaktur adalah perusahaan manufaktur yang berdiri sejak 2001. Perusahaan ini memproduksi mesin tepat guna dengan merek PRESCO, mulai dari mesin peras kelapa hingga mesin pengolah makanan, pertanian, dan peternakan. Produknya dipasarkan hingga Sumatera, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Papua.

Selama magang, Ilhamdianto ditempatkan di bagian kelistrikan. Ia membantu memasang kontak motor pada mesin pengaduk bumbu, mesin santan, dan mesin parut, serta memasang lampu di bengkel CNC.

Selain itu, ia mendapat tugas merancang bel otomatis yang diharapkan bisa membantu kegiatan produksi perusahaan. Menurut laporannya, bel manual sering menimbulkan keterlambatan pemberitahuan waktu kerja. Karena itu, ia merancang bel yang bekerja berdasarkan jadwal dan tidak perlu diatur ulang setiap hari. Jadwal diprogram sekali lewat pengunggahan program ke Arduino. Modul RTC DS3231 menyediakan data waktu yang akurat, lalu relai mengaktifkan bel pada jam yang telah ditentukan.

Proses pembuatannya meliputi persiapan alat dan bahan (Arduino, RTC DS3231, kabel jumper, relai, kabel USB, bel, dan kontak), perakitan rangkaian sesuai jalur, pengunggahan program, lalu pemantauan dan evaluasi secara bertahap.

Ilhamdianto mengaku tantangan terbesarnya ada pada pemrograman, terutama menentukan program yang sesuai dengan perangkat yang dipakai. Ia menegaskan bahwa perakitan dengan modul RTC harus dilakukan dengan teliti karena kesalahan kecil bisa berdampak besar.

"Membuat bel otomatis ini pengalaman baru bagi saya. Selama ini kami banyak belajar teori, tetapi di sini saya harus merakit, memprogram, lalu memastikan alat benar-benar bisa dipakai. Hambatan yang paling terasa ada di pemrograman, tetapi justru di situ saya banyak belajar," ujar Ilhamdianto.

Ia juga mengaku sempat mengalami hambatan memahami cara memakai alat dan sistem kerja di lapangan. Untuk mengatasinya, ia mencari informasi tentang masalah yang terjadi dan berusaha cermat menjalankan setiap instruksi.

Melalui kegiatan ini, Umri berharap kerja sama dengan dunia industri terus terjalin agar mahasiswa memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.


Load comments

0 Comments