Mahasiswa Umri Ungkap Biang Keroknya Setelah 2 Bulan Magang di Service Center Samsung Pekanbaru
Pekanbaru 6 April 2024– Mahasiswa Program Studi Pendidikan Vokasional Teknik Elektronika (PVTE), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Muhammad Raihan, menuntaskan program magang industri di PT Sitcomtara Pekanbaru. Dalam laporannya, ia menganalisis kerusakan mesin cuci Samsung front load tipe WW12K8412OW dengan keluhan bunyi berisik.
Magang berlangsung sejak 5 Februari hingga 6 April 2024. Awalnya kegiatan dijadwalkan berakhir pada 15 Maret 2024, tetapi perusahaan meminta penambahan hari sehingga masa magang diperpanjang. Raihan bekerja Senin sampai Sabtu, pukul 08.30–17.00 WIB.
Selama magang, Raihan terlibat langsung dalam layanan servis ke rumah pelanggan (in home) maupun di kantor. Pekerjaannya beragam, mulai dari penggantian kompresor dan sensor kulkas, penggantian motor, drum, dan PCB mesin cuci, hingga perbaikan panel dan LED bar televisi.
Dari pengalaman di lapangan itu, Raihan memaparkan bahwa salah satu penyebab mesin cuci Samsung front load berbunyi berisik adalah flange atau segitiga pada tabung yang retak atau patah. Kerusakan ini dapat dipicu oleh faktor usia komponen, beban cucian yang berlebihan, posisi mesin yang tidak rata, dan pemakaian sabun yang tidak sesuai anjuran.
Untuk menelusuri sumber bunyi, ia menyarankan langkah pemeriksaan berikut: memastikan tidak ada benda asing yang mengganjal bodi mesin, menggoyangkan tabung dalam untuk merasakan hambatan atau suara, serta memeriksa saluran pembuangan dari benda seperti batu, koin, atau kertas. Jika flange terbukti rusak, komponen tersebut perlu diganti.
Raihan juga membagikan tips pencegahan. Pengguna disarankan mengisi cucian maksimal sekitar setengah kapasitas mesin, atau sekitar 6 kilogram untuk mesin berkapasitas 12 kilogram, menempatkan mesin di permukaan rata dengan bantalan di setiap sudut, serta memakai sabun yang tidak bersifat korosif. Perawatan rutin juga penting, misalnya membersihkan filter jaring minimal dua kali setahun dan filter pompa minimal empat kali setahun.
"Di kampus kami belajar teorinya, tetapi di lapangan setiap keluhan pelanggan punya cerita berbeda. Lewat magang ini saya belajar menelusuri kerusakan langkah demi langkah, dari yang paling sederhana sampai ke komponen. Pengalaman itu sangat berharga untuk bekal masuk dunia kerja," ujar Muhammad Raihan.
Raihan mengakui sempat menghadapi kendala, terutama minimnya pengetahuan tentang komponen yang belum pernah ia gunakan dan kurangnya informasi awal tentang tugas yang akan dikerjakan. Meski begitu, ia menyimpulkan bahwa tujuan dan manfaat magang telah tercapai dengan baik.
Melalui kegiatan ini, Umri berharap kerja sama dengan dunia industri terus terjalin agar mahasiswa memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.


0 Comments